TEMPO Interaktif, Jakarta – Rontoknya bursa regional karena kekhawatiran krisis utang Yunani, membuat indeks harga saham harus terpangkas lebih dari 100 poin. Ini penurunan tiga hari beruntun dalam pekan ini sekaligus kejatuhan terdalam sejak 9 Oktober 2008 setelah bursa disuspensi arena anjlok lebih dari 10 persen.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada perdagangan Rabu (5/5) sore tadi ditutup ke level 2.846,239, atau terpangkas 112,776 poin (3,81 persen) dari posisi sehari sebelumnya di 2.959,015.
Analis dari PT Sinarmas Sekuritas, Alfiansyah, menjelaskan jatuhnya bursa regional karena krisis utang kawasan Eropa berdampak terhadap bursa domestik. “Turunnya harga komoditas, terutama minyak, yang sekarang di level US$ 82 per barel turut membebani pergerakan bursa lokal,” ujarnya.
Rencana Sri Mulyani mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan setelah ditunjuk menjadi salah satu managing directur di Bank Dunia membuat bursa dilanda kepanikan jual. Hal ini dijadikan momentum para pemodal melepas portofolio sahamnya. Karena secara teknikal harga-harga saham unggulan juga sudah sangat mahal.
Menurut Alfian, selama ini Sri Mulyani sangat disegani forum internasional dan diterima oleh pasar karena kebijakannya. Dalam kepemimpinannya, cadangan devisa terus meningkat, ekonomi terus tumbuh, serta dinilai berhasil membawa Indonesia keluar dari krisis global. Sehingga pengunduran dirinya menurunkan kepercayaan investor.
Setelah pengunduran diri Sri Mulyani disetujui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali memunculkan ketidakpastian serta menimbulkan pertanyaan di pasar. Siapa tokoh yang akan menggantikannya? Seperti apa nanti kebijakannya? Apakah nanti penggantinya disukai pasar atau tidak?
“Dalam jangka pendek masalah ini masih akan mempengaruhi sentimen di bursa,” kata dia. Alfian memperkirakan, indeks harga saham dalam negeri masih akan cenderung turun hingga ke level 2.830 seiring minimnya sentimen positif di pasar.
Edwin Sebayang, kepala riset dari PT Bhakti Securities, mengemukakan bursa domestik secara valuasi memang sudah sangat mahal sekali dibandingkan dengan bursa lainnya. Jatuhnya bursa global serta harga komoditas ini dijadikan oleh pasar untuk melakukan penyesuaian harga.
“Rencana pengunduran diri Sri Mulyani menambah alasan bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung yang telah diperoleh setelah indeks naik hampir mendekati level 3.000 kemarin,” kata Edwin.
Indeks diperkirakan terus turun namun sudah agak terbatas. Para pemodal harus mulai berfikir rasional dan menganggap kejatuhan ini suatu koreksi yang wajar karena dampak dari sentimen global dan bisa dimanfaatkan kembali untuk mengakumulasi saham.
”Secara historis pada Mei dan Juni biasanya memang terjadi koreksi setelah minimnya sentimen positif dipasar,” ujar dia. Edwin percaya masih banyak kandidat yang bisa menggantikan sosok Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dan bisa diterima oleh pasar. Karena sistem good goverment di Departemen keuangan sudah berjalan dengan baik.
Hari ini sebanyak 210 saham harganya turun. Hanya 29 saham yang naik, serta 30 saham lainnya stagnan. Investor asing mencatat penjualan bersih yang cukup besar senilai Rp 645,69 miliar. Volume perdagangan mencapai 13,3 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,77 triliun, serta frekuensi lebih dari 146 ribu kali.
Saham-saham yang menyeret penurunan indeks kali ini antara lain: Astra International anjlok Rp 2.100 menjadi Rp 43.450, Indo Tambangraya terjun Rp 2.000 ke level Rp 36.650, Astra Agro Lestari merosot Rp 950 ke level Rp 20.700, United Tractor turun Rp 1.200 menjadi Rp 18.000, Bank Mandiri jatuh Rp 400 menjadi Rp 5.300.
Bank BRI terpangkas Rp 500 ke level 8.550, Telkom turun Rp 200 menjadi Rp 7.650, PTBA terkoreksi Rp 450 ke level 17.950, serta Bank BCA juga tergelincir Rp 300 menjadi Rp 5.200 per saham.
Adapun indeks industri Dow Jones di Amerika Serikat pada Selasa waktu setempat jatuh 225,06 poin atau 2,02 persen ke level 10.926,77. Dan harga minyak di pasar komoditas New York Mercantile Exchange, jatuh ke level US$ 82,74 per barel.
VIVA B KUSNANDAR
Source:
Bursa Panik, Indeks Lokal Terjungkal – Tempo Interaktif
Related Blogs
Related posts:
