Rupiah cetak penurunan terbesar dalam 3 bulan – Bisnis Indonesia

JAKARTA (Bisnis.com): Rupiah terdepresiasi hingga penurunan terbesar 3 bulan seiring dengan koreksi di bursa saham dan mata uang di kawasan regional.

Selain itu berita mengenai mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menambah tekanan terhadap pasar domestic.

Rupiah pada siang ini terdepresiasi 76 poin atau 0,75% menjadi Rp9.092 per dolar AS pukul 14.15 WIB menurut data Bloomberg.

Penurunan terbesarnya sejak tiga bulan lalu yakni sejak 5 Februari 2010 yang saat itu terkoreksi 84 poin atau -0,90% menjadi Rp9.410.

Pada siang ini juga indeks harga saham gabungan (IHSG) terpangkas 70,29 poin atau minus 2,38% menjadi 2.888,73.

Koreksi mata uang juga terjadi di kawasan regional Asia, seiring koreksi di pasar saham global, bahkan euro terpangkas hingga level terendah satu tahun dipicu spekulasi krisis utang Yunani akan melebar ke negara-negara lainnya di Eropa.

“Konsentrasi terbesar pada perdagangan hari ini adalah mengenai masalah utang di Eropa, dimana Spanyol menjadi salah satu pusat perhatian karena dikhawatirkan akan ada penurunan peringkat lainnya. Dengan demikian pasar saham dan mata uang di Asia turut terpangkas hari ini,” kata Analis Valas PT Askap Futures Wahyu.T. Laksono kepada Bisnis.com.

Riset Mega Capital Indonesia menyatakan kecemasan bahwa krisis utang pemerintah di Eropa akan menyebar meskipun Yunani telah mendapatkan bantuan, mendorong tekanan jual pada perdagangan saham di bursa Wall Street.

Paket bantuan terhadap Yunani telah mencapai kesepakatan pada pekan lalu, tetapi nilai bantuan yang meningkat menjadi US$144 miliar mendorong kecemasan investor jika negara Eropa lainnya yang lebih besar seperti Spanyol dan Portugal juga membutuhkan bantuan.

Indeks Dow Jones di Wall Street AS turun 2,02%, dan  S&P500 minus 2,38%.

“Hari ini rupiah bergerak dengan kecenderungan melemah. Aksi profit taking investor memanfaatkan anjloknya bursa Wall Street membuat IHSG kembali terkoreksi dan berpotensi menekan pergerakan rupiah,” kata Head of Research Bank Negara Indonesia Rosady T.A. Montol.

Berita seputar mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga turut menekan pergerakan rupiah.

VP Research and Analyst PT Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckheere mengatakan rupiah dan bursa saham terkoreksi secara signifikan karena pasar tidak menyukai ketidakpastian.

“Setiap orang dapat diganti, tetapi Indonesia memang telah kehilangan orang yang sangat berbakat dan punya jasa besar sekali terhadap kemajuan yang dicapai selama beberapa tahun terakhir. Sayang sekali salah satu putri bangsa terbaik harus bekerja untuk institusi asing dan tidak dihargai oleh segelintir orang di dalam negeri,” kata Nico.

Menurut Wahyu, rupiah berpotensi melanjutkan koreksinya hingga ke level Rp9.100-Rp9.140 per dolar AS.

Namun, menurut Rosady, dipertahankannya BI Rate di level 6,50% dalam rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia hari ini cenderung menahan pelemahan rupiah.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Darmin Nasution sebelumnya mengatakan bahwa bank sentral akan menjaga rupiah di level 9.000 per dolar.

Mata uang di kawasan Asia siang ini juga terkoreksi dipimpin oleh peso Filipina dan ringgit Malaysia. Peso terdepresiasi 0,8% menjadi 44,99 per dolar AS, ringgit melemah 0,4% menjadi 3,2289 dan dolar Singapura turun 0,4% menjadi S$1,3814.

Indeks saham MSCI Asia Pacific kecuali Jepang juga turun 1,6% hingga menyentuh level terendah sejak 15 Maret. (wiw)

Source:
Rupiah cetak penurunan terbesar dalam 3 bulan – Bisnis Indonesia

Related Blogs

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

Related posts:

  1. Rupiah naik ke level tertinggi dalam 19 bulan – Bisnis Indonesia
  2. Rupiah jatuh terbesar dalam 10 pekan – Bisnis Indonesia
  3. Rupiah menguat imbas rebound bursa saham – Bisnis Indonesia
  4. Rupiah menguat dipicu data manufaktur AS – Bisnis Indonesia
  5. Bursa acuan China alami penurunan terbesar dalam sembilan bulan – Kontan

About